Kedelai Sebagai Sumber Senyawa Isoflavon
Senyawa isoflavon merupakan senyawa metabolit sekunder
yang banyak disintesa oleh tanaman. Namun, tidak sebagai layaknya senyawa
metabolit sekunder karena senyawa ini tidak disintesa oleh mikroorganisme.
Dengan demikian, mikroorganisma tidak mempunyai kandungan senyawa ini. Oleh
karena itu, tanaman merupakan sumber utama senyawa isoflavon di alam. Di
berbagai antara tanaman, kandungan isoflavon yang lebih tinggi terdapat pada
tanaman Leguminoceae, khususnya pada tanaman kedelai. Pada tanaman
kedelai, kandungan isoflavon yang lebih tinggi terdapat pada biji kedelai, khususnya
pada bagian hipokotil (germ) yang akan tumbuh menjadi tanaman. Sebagian
lagi terdapat pada kotiledon yang akan menjadi daun pertama dari tanaman
Kandungan isoflavon pada kedelai berkisar 2--4 mg/g
kedelai. Senyawa isoflavon ini pada umumnya berupa senyawa kompleks atau
konjugasi dengan senyawa gula melalui ikatan glukosida. Jenis senyawa isoflavon
ini terutama adalah genistin, daidzin, dan glisitin. Bentuk senyawa demikian
ini mempunyai aktivitas fisiologis kecil.
Manfaat Isoflavon
Di bawah ini dapat dilihat beberapa manfaat dari
isoflavon sehubungan dengan beberapa penyakit.
Kanker Payudara
Selama lebih dari 10 tahun telah banyak penelitian
yang menduga adanya efek antikanker dari kedelai, terutama yang berhubungan
dengan kanker payudara. Para peneliti tertarik karena ditemukannya estrogen
kerja rendah dalam isoflavon dan rendahnya angka mortalitas akibat kanker
payudara di Asia. Isoflavon dapat meningkatkan efek antiestrogenik dalam
beberapa cara, walaupun data tentang efek ini terhadap manusia terbatas.
Venous Thromboembolic Disease
Estrogen diduga meningkatkan risiko trombosis dengan
meningkatkan produksi hepatik atau metabolisme faktor koagulasi. Belum ada
mekanisme yang jelas mengenai ini. Namun dari banyak penelitian yang dilakukan
membuktikan bahwa berbeda dari estrogen, isoflavon dan protein kedelai keduanya
mengurangi atau tidak memiliki efek terhadap agregasi trombosit.
Stroke
Pada percobaan terhadap binatang ditemukan adanya efek
potensial pada kedelai terhadap risiko stroke.Monyet-monyet dewasa yang
menderita diabetes diberikan diet yang mengandung sumber protein yang berbeda.
Hasilnya menunjukkan kadar kolesterol LDL berkurang pada monyet yang menerima
protein kedelai.
Saluran Empedu
Estrogen dapat menambah risiko penyakit saluran empedu
dengan meningkatkan konsentrasi kolesterol di kantung empedu. Pada penelitian
terhadap binatang didapatkan bahwa protein kedelai dapat menurunkan risiko
tersebut dengan menurunkan konsentrasi kolesterol dalam empedu dan hati.
Coronary Heart Disease
Efek hipokolesterolemik dari kedelai dapat juga
menurunkan insiden CHD. Selain itu isoflavon dapat juga memberi manfaat
terhadap pembuluh darah dimana terjadi peningkatan arterial compliance, sebagai
patokan fleksibilitas arteri. Isoflavon dan protein kedelai juga dapat
menurunkan tekanan darah dan menghambat oksidasi kolesterol LDL.
Kanker Kolorektal
Kedelai diduga mengurangi beberapa bentuk dari kanker,
termasuk kanker kolorektal. Salah satu penelitian menemukan dari sampel dengan
riwayat kanker kolon yang diberi 39 gram protein kedelai/hari selama satu
tahun, terdapat penurunan signifikan pada proliferasi sel kolon. Hal ini
menunjukkan penurunan dalam hal risiko kanker kolon.
Fraktur
Karena sifatnya yang mirip dengan estrogen, manfaat
isoflavon terhadap sistem skeletal juga banyak. Isoflavon dapat menghambat
kehilangan kalsium dari tulang. Hal ini dapat terjadi karena adanya
penghambatan pengeluaran kalsium melalui urine. Data epidemiologi menyebutkan
adanya peningkatan densitas tulang pada wanita-wanita Asia yang banyak
mengkonsumsi kedelai. Peningkatan densitas tulang ini dapat membantu wanita
menopause menghindari osteoporosis yang dapat mengakibatkan fraktur.
dari penjelasan tentang manfaat senyawa isoflavon, bagaimanakah cara mengisolasi senyawa isoflavon yang terkandung pada biji kedelai Glycine max dan bagaimana cara mengidentifikasinya berdasarkan metode geseran spektrum?
BalasHapusisolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dari biji kedelai (Glycine max). Dari 1740,83 g serbuk kering biji kedelai diperoleh sekitar 17,82 g ekstrak kental metanol yang berwarna kuning kecoklatan. Hasil hidrolisis terhadap ekstrak kental ini dengan HCl 2N adalah 2,61 g ekstrak n-heksana. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana positif mengandung flavonoid. Pemisahan dan pemurnian terhadap ekstrak nheksana
BalasHapusdilakukan dengan kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Identifikasi terhadap fraksi yang positif flavonoid dengan UV-Vis menunjukkan dua pita serapan yaitu pita I pada panjang gelombang 312,9 nm dan pita II pada panjang gelombang 268,2 nm. Hasil pereaksi geser dengan natrium hidroksida, natrium asetat, natrium asetatasam borat, aluminium klorida, aluminium klorida-asam klorida pekat menunjukkan bahwa isolat mengandung senyawa flavonoid golongan isoflavon dengan tidak terdapat gugus OH bebas pada cincin A serta tidak mengandung gugus orto dihidroksi pada cincin A. Spektrum inframerah menunjukkan bahwa isolat mempunyai gugus-gugus yang khas seperti C-H aromatik, C-H alifatik, C=O, C=C aromarik, C-O.
Pemeriksaan golongan flavonoid dapat dilakukan dengan uji warna yaitu :
1. Test Wilstatter Beberapa mililiter sampel dalam alkohol ditambahkan 2-4 tetes larutan HCl dan 2-3 potong kecil logam Mg. Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua menjadi orange.
2. Test dengan NaOH 10% Beberapa mililiter sampel dalam alkohol ditambahkan 2-4 tetes larutan NaOH 10%. Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua menjadi kuning muda.
3. Test dengan H2SO4 (pekat) Beberapa mililiter sampel dalam alkohol ditambahkan 2-4 tetes larutan H2SO4 (pekat). Perubahan warna yang terjadi diamati dari kuning tua menjadi merah tua.
Uji Kemurnian
Uji kemurnian dilakukan menggunakan berbagai campuran fase gerak, yaitu n-heksana, kloroform, etil asetat dan n-butanol. Jika isolat tetap menunjukkan noda tunggal pada plat kromatogram dengan fase gerak yang berbeda, menunjukkan isolat relatif murni secara KLT, bahwa isolat tersebut hanya mengandung satu macam senyawa.
Karakterisasi golongan senyawa flavonoid dengan spektrafotometer UV-Vis
Pengukuran spektrum UV-Vis dilakukan pada panjang gelombang 250-500 nm. Sebanyak 1 mg isolat dilarutkan dalam 100 mL metanol (larutan persediaan), kemudian diukur panjang gelombangnya. Selanjutnya untuk mengetahui kedudukan gugus hidroksi pada inti flavanoid dilakukan dengan menambahkan pereaksi geser ke dalam larutan cuplikan. Pereaksi geser yang digunakan antara lain natrium hidroksida, natrium asetat, natrium asetat dan asam borat, aluminium klorida, aluminium klorida dan asam klorida. Tahapan keja penggunaan pereaksi geser adalah sebagai berikut :
a. Setelah mengukur spektrum cuplikan dalam metanol, ditambahkan 3 tetes NaOH ke dalam kuvet, dikocok hingga bercampur. Kemudian diukur panjang gelombangnya. Setelah diukur, cuplikan dibuang dan sel dicuci.
b. Pengukuran spektrum dengan pereaksi geser NaOAc dilakukan dengan cara menambahkan serbuk NaOAc dalam kuvet yang berisi larutan persediaan hingga terdapat kira-kira 2 nm lapisan NaOAc pada dasar kuvet, lalu dikocok, kemudian diukur. Pengukuran spektrum NaOAc + H3BO3 diukur setelah ditambahkan serbuk H3BO3 pada larutan persediaan yang kemudian dicampur/dikocok (banyaknya serbuk H3BO3
lalu, bgaimanakah cara kerja nya terhadap tubuh dalam pencegahan penyakit kanker ??
BalasHapusKedelai sangat baik untuk mengurangi resiko pertumbuhan kanker karena kedelai mengandung beberapa zat anti kanker. Zat didalamnya, Isoflavone genistein, dapat mengurangi pertumbuhan pembuluh darah baru pada jaringan kanker sehingga mencegah perkembangbiakan sel kanker. Demikian pula Phytosterol yang akan menghambat pembelahan dan perkembangbiakan sel kanker kolon. Sedangkan Saponins dapat merangsang imunitas, membunuh sel sel kanker jenis tertentu, serta memperlambat pertumbuhan kanker serviks. Fructo-oligosaccharida yang ditemukan dalam produk berbahan dasar kedelai juga mampu membantu pertumbuhan bakteri baik di usus dan membantu pengeluaran bakteri jahat dari tubuh.
BalasHapuscara lain dalam identifikasinya yaitu:
BalasHapusProses identifikasi isoflavon pada kedelai dimulai dengan pengumpulan bahan, kemudian penyederhanaan bentuk bahan dengan mengubah biji menjadi bentuk serbuk. Serbuk ini kemudian dimaserasi yaitu perendaman dengan pelarut, maserasi dilakukan untuk mengeluarkan bahan aktif dari serbuk simplisia. Teknik maserasi dipilih karena peralatan yang digunakan sederhana, dan tidak memerlukan keahlian dari praktikan. Dengan teknik maserasi bahan aktif dapat diperoleh dari simplisia dengan maksimal, karena perendaman yang dilakukan lebih dari satu hari. Teknik lanjutan setelah maserasi yang digunakan adalah kromatografi kolom lambat, metode ini dipilih karena dengan metode ini akan didapat fraksi-fraksi yang akan membantu dalam analisis selanjutnya. Selanjutnya adalah pemisahan dengan kromatografi lapis tipis (KLT), metode ini dilakukan untuk memisahkan senyawa isoflavon yang ada dalam fraksi hasil kromatografi kolom. Dengan metode ini didapatkan harga Rf yang spotnya dapat diperjelas dengan penampak bercak dan dilihat dibawah sinar UV. Setelah pemisahan dengan KLT, dilakukan pengujian dengan geseran spektrum. Pengujian dengan geseran spektum membantu dalam menentukan pola oksigenasi. Disamping itu, kedudukan gugus hidroksil fenol bebas pada inti flavonoid dapat ditentukan dengan menambahkan peraksi geser ke dalam larutan cuplikan dan mengamati pergeseran puncak serapan yang terjadi. Dengan demikian, secara tidak langsung cara ini berguna untuk menentukan kedudukan gula atau metal yang terikat pada salah satu gugus hidroksil fenol (Markham, 1988)